Situasi mencekam terjadi di Polsek Kayangan, Lombok Utara, setelah massa yang marah melakukan perusakan terhadap kantor kepolisian tersebut. Insiden ini diduga dipicu oleh kesalahpahaman antara warga dan aparat kepolisian terkait penanganan kasus dugaan pencurian handphone di sebuah minimarket.
Kronologi Kejadian
Kapolres Lombok Utara, AKBP Agus Purwanta, menegaskan bahwa perusakan kantor polisi ini bukan disebabkan oleh dugaan adanya oknum polisi yang meminta sejumlah uang untuk menutupi kasus pencurian. Menurutnya, kemarahan warga dipicu oleh kesalahpahaman yang berkembang di masyarakat.
Korban, berinisial RW, dikabarkan tak sengaja membawa pulang handphone milik karyawan minimarket. Setelah menyadari kesalahannya, ia segera mengembalikan ponsel tersebut kurang dari 24 jam. Meski telah berdamai dengan pihak minimarket, rekaman CCTV yang menunjukkan RW memasukkan ponsel ke dalam tasnya terlanjur viral di media sosial.
Kasus ini akhirnya tetap ditindaklanjuti oleh kepolisian, yang kemudian memanggil RW untuk dimintai keterangan. Sayangnya, tekanan yang dirasakan korban diduga membuatnya depresi hingga akhirnya mengakhiri hidupnya pada Senin petang, hanya 20 menit sebelum waktu berbuka puasa.
Massa Geram, Polsek Jadi Sasaran
Mendengar kabar tersebut, warga yang marah langsung mendatangi Polsek Kayangan. Situasi semakin panas hingga akhirnya terjadi aksi perusakan terhadap kantor polisi. Massa juga sempat berencana mendatangi minimarket tempat kejadian untuk melampiaskan kemarahan mereka, tetapi berhasil diredam oleh aparat keamanan.
Kapolda NTB, Irjen Pol Hadi Gunawan, turun langsung ke lokasi untuk memastikan situasi tetap terkendali. Ia menegaskan bahwa kondisi di Polsek Kayangan kini sudah kembali kondusif. Namun, sejauh ini pihak kepolisian masih melakukan pendataan terkait tingkat kerusakan fasilitas akibat aksi tersebut.
Pelajaran dari Insiden Ini
Kejadian ini menjadi pengingat penting akan pentingnya komunikasi yang jelas antara masyarakat dan aparat penegak hukum. Kesalahpahaman yang tidak segera diluruskan dapat memicu emosi dan berujung pada tindakan anarkis. Selain itu, insiden ini juga menyoroti dampak dari penyebaran informasi di media sosial yang bisa memperkeruh keadaan.
Pihak kepolisian berjanji akan melakukan evaluasi dalam menangani kasus serupa di masa depan, agar kejadian seperti ini tidak terulang kembali. Masyarakat pun diimbau untuk tetap tenang dan menyalurkan aspirasi melalui jalur yang tepat demi menjaga keamanan dan ketertiban bersama.
Tinggalkan Balasan