Jakarta Memanas: Massa Demonstran Bentrok dengan Polisi
Jakarta – Demonstrasi besar-besaran menolak pengesahan Rancangan Undang-Undang (RUU) TNI berujung bentrokan di depan Gedung DPR RI, Jakarta. Massa aksi yang berkumpul sejak dini hari menuntut agar Undang-Undang yang baru disahkan pada pagi hari itu dibatalkan. Namun, pihak kepolisian tidak memberikan ruang negosiasi dan meminta massa untuk membubarkan diri.
Ketegangan meningkat ketika massa menolak untuk pergi. Bentrokan pun tak terhindarkan. Polisi menembakkan water cannon untuk membubarkan massa yang terus merangsek maju. Akibat dorongan kuat dari demonstran, pagar Gedung DPR roboh di beberapa titik. Kejadian ini menambah panas suasana di lapangan.
Massa Bertahan, Polisi Minta Pembubaran
Menurut laporan di lokasi, beberapa perwakilan massa mencoba berdialog dengan aparat keamanan. Namun, upaya ini tidak direspons dengan baik. Polisi bersikeras agar aksi segera dihentikan dan mengizinkan massa untuk kembali berdemo keesokan harinya.
Namun, massa menolak dengan tegas. Mereka menilai tidak ada lagi waktu untuk menunggu. Bagi mereka, keputusan harus diambil malam itu juga.
Ketegangan semakin memuncak ketika kepolisian mulai memberikan peringatan keras agar massa segera membubarkan diri. Namun, justru sebaliknya, para demonstran semakin bersemangat meneriakkan tuntutan mereka.
RUU TNI Resmi Disahkan Pagi Hari
Sebagai latar belakang, DPR RI telah mengesahkan RUU TNI menjadi Undang-Undang pada pukul 10.00 WIB pagi tadi. UU tersebut memberikan wewenang bagi TNI untuk menduduki 14 jabatan di kementerian atau lembaga negara.
Kebijakan ini menuai penolakan luas dari berbagai elemen masyarakat. Mereka menilai kebijakan ini bisa mengancam profesionalisme TNI serta mengubah struktur pemerintahan menjadi lebih militeristik.
Banyak kelompok masyarakat sipil yang khawatir bahwa perubahan ini bisa mengembalikan pola Orde Baru, di mana militer memiliki pengaruh besar dalam pemerintahan.
Demonstrasi Dimulai Sejak Dini Hari
Demonstrasi ini bukanlah aksi spontan. Beberapa kelompok massa aksi sudah berkumpul sejak dini hari di sekitar Gedung DPR, terutama di bagian belakang. Mereka datang membawa tenda dan perlengkapan lainnya untuk bertahan semalaman.
Sekitar pukul 09.00–10.00 WIB, aksi di depan Gedung DPR mulai tampak. Awalnya, jumlah massa belum terlalu banyak. Namun, seiring berjalannya waktu, sekitar pukul 13.00 WIB, gelombang demonstran semakin membesar.
Pada sore hari, massa yang sebelumnya berada di belakang gedung mulai berpindah ke depan Gedung DPR. Mereka melakukan long march dari Gerbang Pancasila menuju halaman utama DPR RI.
Pagar DPR Roboh, Bentrokan Tak Terhindarkan
Puncak ketegangan terjadi ketika massa aksi terus mendorong maju meski pihak kepolisian sudah membentuk barikade.
Situasi semakin memanas ketika massa berhasil merobohkan pagar di beberapa bagian gedung. Tidak hanya itu, coretan dan aksi vandalisme juga terjadi di dinding gedung DPR dan jalan sekitarnya.
Tulisan-tulisan yang terpampang di jalanan menggambarkan rasa frustrasi dan kekecewaan terhadap pemerintah. Sementara itu, aparat kepolisian mulai bertindak lebih tegas dengan menembakkan water cannon ke arah massa.
Teriakan “Turunkan Prabowo!” menggema di tengah kepanikan. Massa aksi terus bertahan meski digempur oleh tekanan dari pihak kepolisian.
Polisi Memukul Mundur Demonstran
Menyadari bahwa situasi semakin tidak terkendali, kepolisian akhirnya menambah jumlah personel dan mengerahkan lebih banyak pasukan untuk membubarkan demonstran.
Pada akhirnya, polisi berhasil memukul mundur massa aksi hingga ke trotoar dan area sekitar jalan raya. Namun, beberapa kelompok kecil masih bertahan dan mencoba melakukan perlawanan.
Dalam upaya pembubaran, beberapa demonstran dilaporkan mengalami luka-luka akibat bentrokan. Ambulans terlihat berlalu-lalang membawa korban yang terkena gas air mata atau terkena dorongan dari kericuhan.
Demonstrasi Berakhir, Namun Ketidakpuasan Masih Membara
Meskipun aksi demonstrasi pada malam itu berhasil dibubarkan oleh kepolisian, namun suara ketidakpuasan masih menggema.
Banyak pihak yang menduga bahwa aksi protes serupa akan kembali terjadi dalam beberapa hari ke depan. Massa aksi menegaskan bahwa perjuangan mereka belum selesai.
Sementara itu, pagar Gedung DPR yang roboh dan coretan vandalisme di area sekitar menjadi saksi bisu dari perlawanan masyarakat terhadap pengesahan UU TNI ini.
Pertanyaannya kini, apakah pemerintah akan merespons tuntutan masyarakat atau justru mempertahankan kebijakan yang kontroversial ini? Jawabannya masih harus ditunggu dalam beberapa hari ke depan.
Tinggalkan Balasan